Opini - Sampah oh sampah
Sampah sudah tidak terdengar asing
lagi bagi kita. Berbagai komunitas telah memaparkan topik pembahasan tentang
masalah itu. Sampah merupakan material atau bahan yang sudah tidak dibutuhkan
lagi, kecuali untuk bahan-bahan tertentu yang dapat didaur ulang. Sampah dapat
berupa daunan kering, makanan atau minuman sisa, barang-barang bekas, bungkus
makanan atau minuman itu sendiri, dan sebagainya. Namun, para pakar lingkungan
membedakan sampah ini menjadi 2 yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang dapat terurai secara alami. Misal, dedaunan
yang mengering, batang atau dahan yang jatuh, makanan, minuman dan lain-lain.
Sedangkan bahan anorganik adalah bahan yang tidak dapat terurai secara alami
contoh kaca beling, sterofom, plastik dan lain-lain. Bahan anorganik ini bisa
terurai secara alami. Namun prosesnya lebih lama dibandingkan sampah organik.
Proses yang memakan hingga 1000 tahunan atau mungkin lebih.
Sebuah film yang ditayangkan oleh
komunitas Ocean
Of Life Indonesia (OLI),
Sabtu (10/5) pukul 16.00 WIB di KR Jalan Margo Utomo tentang perbandingan pengumpulan sampah di
Indonesia dengan negara maju seperti
Inggris. Di Indonesia masih menggunakan tenaga dan alat yang sederhana.
Sedangkan di Inggris sudah memakai alat berat yang modern dan masyarakat
diwajibkan untuk membedakan mana sampah organik dan sampah anorganik.
Pengumpulan sampah di Indonesia
masih menggunakan gerobak atau mobil-mobil pengangkut. Lalu mobil dan gerobak
ini menyetor pada Tempat Pembuangan Akhir atau biasa disebut TPA. Cepat atau
lambat TPA ini semakin banyak, bahkan membentuk pegunungan yang baunya bisa
menyebabkan mual. Hal ini bisa juga membuat pemandangan kota menjadi kumuh.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, seperti
mencanangkan program 3R yakni Reduce, Reuse dan Recycle . Perwujudan
program ini bergantung pada partisipasi masyarakat. Salah satu metode yang
diunakan untuk mengatasi masalah sampah yakni mensosialisasikan pengelompokan
sampah. Namun entah kenapa cara ini tidak pernah berhasil di Indonesia.
Kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat diperkirakan menjadi persoalannya.
Masyarakat masih menyepelekan masalah sampah ini terbukti dengan masih
banyaknya orang yang membuang sampah sembarangan. Akibatnya lingkungan menjadi
tercemar.
Selain itu, kita juga
bisa dengan mudahnya mengumpulkan sampah daur ulang untuk dijadikan bahan
kerajinan yang bernilai jual tinggi. Hasil kerajinan ini bisa juga di expor ke
luar negri. Marilah, dimulai dari sekarang, Save us! Save the earth!
Komentar
Posting Komentar