Alur yang berbeda

Pagi yang kesekian kali menyapa kami. Angin segar berhembus dari dataran tinggi masuk melalui celah-celah ventilasi rumah membuat nyaman dan sejuk udara di rumah. Embun pagi yang indah nan elok membuat asri pemandangan sekitar.
Perkenalkan, aku Morin Astuti Oelisya, kau bisa memanggilku lisya. Terkadang teman sebaya memanggilku astut. Ketahuilah, itu panggilan yang membuatku eneg. Entah apa yang membuatku merasa seperti itu, yang pasti itu membuatkku geli sendiri. Dan inilah, tetangga seberang rumah yang ‘katanya’ tampan. Yah bisa diakui seperti itu, kulit putih bersih, rambut tertata rapi, gigi yang tersusun rapi, dan senyuman hangat yang ditujukannya pada siapapun yang telah membuatnya nyaman. Ialah Parlos Asyiran Mosyif. Tetangga tampan yang digilai pemudi kampung membuatnya ia jarang keluar rumah. Tetapi, entah kenapa ia selalu memberikan senyuman itu padaku dan ia selalu ada di dekatku. Satu lagi, teman seperjuanganku Afindira Viota Pina. Dia teman yang teramat baik. Membantuku saat senang maupun susah. Hal yang paling tidak aku sukai dari Pina  Ialah mengadu pada ibuku bahwa aku dan Mosyif ada hubungan khusus. Padahal ia sendiri yang selalu memojokkanku. Lagipula, selisih umurku dan Mosyif sekitar lima tahunan. Perbedaan umur itulah aku hanya menganggapnya sekedar kakak, tidak lebih.
Awal aku pindah di perkampungan ini, aku merasa terasingi. Hingga sosok itu datang menghampiri. Mosyif yang sebenarnya tertutup, tidak lagi seperti itu. Ia yang periang dan cerewet membuatku nyaman duluan didekatnya. Dan senyuman itu nyata untukku. Ia hanya butuh waktu untuk saling mengenal kepribadian satu sama lain. Beruntunglah aku punya teman yang sebaik dia, mau mengenalkanku pada struktur pedesaan yang ada. Lamanya aku di pedesaan itu, merubah sifat Mosyif sedikit demi sedikit. Tanpa sadar, kita berdua saling melengkapi. Sikapku dan sikapnya membuat tetangga lain menjauhiku, apalagi pemudinya.

Setelah bertahun-tahun, mendadak aku memutuskan pergi dari pedesaan karena ada urusan yang teramat penting di kota asalku. Waktu itu kami sudah sama-sama dewasa. Sudah merasa saling memiliki, saling ada disaat terpenting maupun tidak. Sungguh, aku tidak ingin meninggalkan kampung ini. Tapi Tuhan mempunyai alur yang telah ditentukan. Perpisahan itu sangat menyesakkan. Aku tak dapat menahan tangisan. Aku berlarian memeluk dia yang bahunya jauh lebih tinggi dari bahuku. Ia memberiku sebuah kenangan, sebuah gantungan kunci merpati. Ntah apa artinya itu. Aku melepaskan badannya, kemudian berbalik arah karena bis sudah menanti kepulanganku. 

Komentar

Postingan Populer