Hasil Pengamatanku

Hay para ramaja!
Apakah kalian sudah memiliki sim?
Di Indonesia, Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan administrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas dan terampil mengemudikan kendaraan bermotor. Beberapa dari kalian mungkin ada yang belum memiliki. Entah malas mengurusnya, pusing dengan biaya atau takut mengikuti prosedur tes yang ada.
Mungkin, asal mula aku tertarik menulis tentang ini karena banyak sisi negatif di dalam pembuatan sim. Oke, kita bahas beberapa. Ini memang bukan pengalamanku, tapi ini pengalaman kakakku. Jadi saya hanya sebagai pengamat.
Waktu itu, kakakku sudah siap untuk beberapa tes yang banyak orang bilang susah. Niat awal keluargaku ialah masuk jalur resmi tanpa calo. Berbagai persyaratan umum sudah disiapkan berbulan-bulan lamanya. Uang yang disiapkan juga tidak banyak, karena di internet  ditujukan sekitar 120rb untuk pembuatan sim c saja. Untung saja keluargaku mencari informasi dimana-mana. Bertanya kesana kemari. Dan memutuskan membawa uang sekitar 1jt untuk pembuatan sim A dan sim C.
Karena pembuatan sim A dan sim C membutuhkan waktu lama dan bolak-balik Yogya-Surabaya. Kami  memutuskan mencari orang dalam sebagai pelicin. Memang, dengan adanya orang dalam, berbagai urusan segalanya terasa mudah. Nah, disini saya menemukan adanya kecurangan.
Coba bayangkan, jika dalam 1 hari melayani 200 orang aja (dalam 1 instalasi) biaya pembuatan SIM C tanpa bantuan kurang lebih 120.000 sedangkan untuk pembuatan SIM C dengan bantuan 200.000 - 350.000. Berarti keuntungan dari satu orang 350.000 – 120.000 = 230.000
Dan 230.000 x 200 (dalam satu hari) = Rp. 46.000.000
Dalam waktu satu bulan Rp. 46.000.000 x 24 hari kerja = Rp. 1.104.000.000 sudah  1 Milyar (belum terhitung pembuatan SIM A dan B)
Belum kalau ada orang ditilang, biaya keamanan, dan lain-lain.
Jangan heran apabila negara ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas. Bukannya aku menjelekkan Negara sendiri, tapi ini realitas yang saya amati selama liburan sekolah.


Komentar

Postingan Populer