Suasana Kelas
Bruk. tiba-tiba
buku yang yang terbang dari arah ketua kelas itu menimpaku. Tanpa menoleh siapa
yang melemparku tadi, spontan aku berteriak
"FAARIISSS...." Dengan tampang jengkel, aku
menerbangkan buku itu kembali dan ...
sialnya buku itu meleset lalu menimpa salah satu teman yang susah
bergaul. Ialah Lidia.
"Lid, maaf banget yah, sekalian lemparin balik kerah Faris"
Ujarku.
Lidia hanya tersenyum dan mengembalikan buku ke Faris dengan
rapi lalu balik ke posisi duduknya.
"Loh lid! lemparkan saja kau membelaku atau dia?"
Protesku.
"Eheh Angel. Lidia kan temenku paling baik. Kamu tu
kenapa malah ngajari hal buruk. Itu gak baik" Ujarnya yang cekikikan
melihat tampangku yang terlipat-lipat.
Sebenarnya dia sahabat aku bukan sih. Aku gak pernah paham.
Deket satu centipun kami tidak bisa akur. Gumamku dalam hati.
Tidak lama kemudian, Arinda datang dari luar kelas dengan
mata lebam. Dia duduk di sebelahku dan menceritakan semuanya, bahwa ia baru
putus dengan pacarnya. Sebagai sahabat aku bingung bagaimana cara membuatnya
tertawa kembali, karena aku belum pernah merasakan di posisinya hingga seperti
itu.
Di tengah-tengah pelajaran, Arinda mengajakku untuk cuci
muka agar ia bisa fresh menerima pelajaran. Ntah kenapa aku merasa malas untuk
menerima ajakannya. Aku menolak. Dia mengajak teman yang lain. Tidak jauh dari
kelasku, tidak lama kemudian terdengar suara brukk. Terdengar suara badan yang jatuh menghantam tanah keras
sekali. Anak-anakpun berhamburan keluar untuk melihatnya. Arinda yang tadi
memohon-mohon mengajakku ke kemar mandi, ia terjatuh, pingsan. Sekelas pun
panik. Dengan cepat, beberapa anak laki-laki mencoba membantunya ke uks pojok
sekolah kami. Menit-menit berlalu dengan pelajaran kosong. Sahabat macam apa
aku ini.
Komentar
Posting Komentar