Ia yang terlihat kuat

“Bagaimanapun juga, aku tetap harus ikut. Apapun resikonya.”
Itulah pemikiran Ermin, teman sebangkuku. Kemauan dan keteguhan hati yang dimilikinya sangat luar biasa. Kemah yang tinggal sehari itu sangat membahayakan kesehatannya. Ia yang mempunyai penyakit anemia akut tidak diijinkan kedua orang tuanya dengan alasan yang kuat. Tetapi Ermin memohon-mohon agar ia tetap diijinkan. Ia berjanji akan menanggung resikonya sendiri.
Dengan berat hati, kedua orang tuanya mengijinkannya. Dengan sorak gembira sambil loncat-loncat membuatnya keseleo. Ia juga seorang  hyperactive, akibatnya ibunda memberikan banyak obat sebagai perbekalan kemah.
Esok hari yang cerah. Persiapan yang dilakukan sebulan sebelumnya, membuat barang-barang Ermin tidak ada yang tertinggal satupun. Perasaan bahagia bercampur  khawatir pada dirinya membuat berhati-hati pada setiap kegiatan yang dilakukannya.
Setibanya di tempat perkemahan, Saat semua barang belum diturunkan, salah seorang petinggi pramuka menjadwalkan untuk jalan-jalan mengenali sekitar. Karena hari pertama, mau tidak mau ia harus mengikuti. Senyum lebar yang disertai langkah kaki menutupi sebagian penyakit yang diderita olehnya. Perjalanan sekitar lima kilometer mengelilingi lapangan tidak membuat mukanya terlihat pucat. (Sekiranya belum terlihat pucat).
Semua perasaan takut teman-temannya belum muncul di hari itu. Kecuali aku yang paling dekat dengannya. Mata indah itu sudah berubah lelah. Aku tau itu. Penyakit yang sama denganku. Penyakit yang kusembunyikan dari siapapun. Tetapi aku memilih diam. Setidaknya ia bisa berbahagia lebih lama sedikit.

Bersambung (1/3) 

Komentar

Postingan Populer